Selasa, 11 Oktober 2016

mengenal tradisi lisan dayak


Ketika sebuah masyarakat  belum mengenal budaya tulis, maka  cara untuk mengkomunikasikan  berbagai kearifan lokal masyarakat dengan cara menuturkan nya secara langsung. seperti yang saya paparkan di bawah ini, Kana merupakan salah satu sastra lisan yang pada zaman dahulu dan sampai sekarang kita masih bisa melihat bukti dari sastra lisan.
1. Kana
Kana adalah suatu bagian dari tradisi lisan Dayak desa    berbentuk cerita lirik, semacam syair panjang yang dituturkan oleh orang-orang tertentu , yang telah memiliki syarat-syarat tertentu (misalnya; usia, Keturunan,  dan tentu juga keahlian). Menurut pak Bangu seorang ahli Kana, yang berusia sekitar 58 tahun, di desa Terumbu’, Kecamatan Kelam Permai, Kabupaten Sintang. Menurut beliau misalnya Kana Bilang Temawai/Menghitung Tembawang,  walaupun seseorang  cukup pandai menuturkannya tetapi apa bila  ia belum pernah duda/janda karena salah satu pasangannya meninggal, maka ia belum boleh menuturkan Kana tersebut. Selain itu, jika seseorang yang ber-kana tengah ber-kana maka ia tidak boleh menghentikan ceritanya secara sesuka hatinya karena cerita ini dianggap sakral, dan tokoh-tokoh yang berperan dalam cerita tersebut dipercayai akan merasa tersinggung dan marah. Ia harus memilih bagian-bagian yang tepat  apabila dengan terpaksa harus menghentikan ceritanya. Misalnya jika Kana tersebut tengah menceritakan babak peperangan maka cerita itu tak boleh dihentikan sebelum para tokoh cerita tersebut mencapai kemenangan,  dan seterusnya.

 “Temawai pepah lempa’ ubah, alai raja Segugah nempa’ tanah baru mesai buah mawang.  Angkat reia’ nguai temawai Kecit Iring Larit alai Raja Segugit nempa’ langit mesa’ lamar para’, angkat reria’ nguai temawai riran ulu tayan dia’ pengadai tuan Selutan, alai ia nempa’ bulan ngeluar pingan pelangka. Angkat reia’ nguai temawai jenenyang ulu jentawang, dia’ pengadai lemamang bintang tiga, bintang randok baka dura, bintang tiga bilang uma. Angkat reia’ nguai temawai trapaeh ulu kapuaeh  tumaeh seperapaeh mata. Angkat retemawai titi ulu melawi dia’ upa’ malui krangan manti titi sari napan ….. Angkat reia’ nguai temawai tuai ulu merakai, dia’ pengadai cinta muga. Angkat reia’ nguai temawai belenyut tebing laut, dia’ tanah mansut baru mesai tutup celepa’, baru ai’ bisik nanga, baru bisi’ riran  nanyan  kebanandan pala, munti’ baru bisi’ suti’ dua, baru bisi’ pantai alai nuba. Dia’ ikan keli’ baru senini’ ngau ikan juara. Angkat reia’ ngui temawai  upam ribang capan, alai jugam agi’ ngesan tandan pisang. Reia’ angkat ketemawai ribang mungu’ sengang, dia’ munsang agi’ tauk nginang kandang manuok dara…
2. Mantra
     A.   Enselan
Enselan adalah bagian dari sebuah kegiatan upacara adat yang biasa dilakukan dalam kelompok masyarakat ini. Semacam mantra yang telah baku untuk memohon berkat kepada Sang Pemilik Kekuasaan  mutlak. Misalnya saja pada upacara Enselan Indu’ (enselan anak perempuan), yang antara lain memohon kepada beberapa orang-orang sakti maupun nenek moyang yang pernah hidup sebagai seorang yang bijaksana, Sakti, pandai menenun dan lain sebagainya untuk memberkati kehidupan sang anak supaya kelak ia mengikuti jejak kebijaksanaan dan kepandaian mereka.
  Ada juga upacara  enselan anak lelaki yang prosesnya hampir sama. Saat enselan, sang anak didudukan di atas gong dengan dipangku seseorang yang pantas menurut adat dengan beralaskan kepuak  kumbuk tersebut. Sang anak  diolesi  darah ayam yang dicampur dengan darah babi, sebagai tanda pemberkatan.
Demikian juga halnya dengan enselan uma (enselan Ladang) supaya kegiatan berladang itu berkenan kepada Sang Penguasa  Alam dan  terhindar dari gangguan hama maupun bencana lainnya.

      B. Timang Muanyik. 
Mantra ini biasanya hanya dibacakan  ketika  akan mengambil lebah madu. Dengan mantra ini, mereka yang ditugaskan mengambil madu di pucuk pohon akan dapat terhindar dari sengatan lebah.  Mantra ini semacam dialog kosmologi antara pembaca mantra dengan penguasa alam. Intinya pemantra meminta izin kepada penguasa alam semesta agar diperkenankan mengambil madu lebah itu. Dalam beberapa kalimat mantra itu juga terkandung bujukan kepada raja lebah. Selain ditujukan supaya lebah tidak menyengat, juga supaya madu yang dihasilkan itu berkualitas  baik dan tidak kosong. “Ti muanyik nisik madu pecal ke tusu nyai ratu baka catu depajak kenyang.
Ti muanyik kak minteh tepeh ngau tapeh bidang betulang. Penguasa lalau adalah Penguasa Lalau, Dara Remiya . Bila keliru membaca mantra maka pemanjat akan jatuh.

3. Ngerenung
Ngerenung adalah bagian dari upacara-upacara adat dalam masyarakat dayak  desa namun hampir tak pernah dilakukan  lagi karena sudah langka dan sangat sulit untuk menemukan  penutur atau penyaji ritualnya, kecuali ritual serupa yang disebut Bebasouk Arang, saat berladang. Namun menurut sejumlah responden di Kecamatan Kelam Permai mereka masih ingat bahwa ketika masih hidup dan berkumpul di rumah betang dahulu dikenal beberapa buah renung dalam masyarakat ini yaitu: 
a. Renung enselan ladang (dilakukan diladang dan merupakan kelanjutan dari enselan  ladang)
b.   Renung turun ngemak (renung ini hanya dilakukan saat upacara memandikan anak kecil disungai),
c. Renung ngapeh pentiek (dilakukan saat menanam pentiek/semacam patung dari kayu).
d.   Renung tusut (silsilah asal mula terciptanya manusia sampai ke keturunan atau sang anak yang sedang dipestakan), Renung ini biasanya dilakukan saat upacara pemasahan gigi sang anak, atau upacara saat menggunting rambut, atau menitik (melobangi) daun telinga sang anak baik laki-laki atau perempuan.  Renung ini sebenarnya kelanjutan dari enselan. Setelah seorang anak dienselan maka kemudian dilanjutkan dengan renung ini tadi, tujuannya untuk menggemakan suara pesta/upacara tersebut dengan mengundang tokoh-tokoh mitologi maupun nenek moyang yang pernah hidup bertuah dan sakti dan pandai.  Tujuannya meminta berkat dan  tuah mulai dari  obat-obat atau pun ajimat-ajimat yang akan menjadi bekal membantu sang anak dalam mengarungi kehidupannya di dunia. Supaya kelak ia menjadi orang yang bijak, pandai menganyam-menenun dan memperoleh suami yang baik (bagi anak perempuan), dan seterus, dan seterusnya.   Semua yang terlibat langsung  dalam gawai tersebut  biasanya dari adalah mereka yang   memiliki keahlian tertentu biasanya mengenakan pakaian adat  dari kain tenun ikat sehingga melahirkan suasana yang sakral.